Ini adalah peristiwa yang menimpa teman sekelasku di Madrasah Diniyah Matholi’ul Huda (MMH) Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) kota Malang. Gag fatal sih, cuma bikin malu. Kejadiannya saat ngaji diniyah pelajaran Bahasa Arab, temanku ini mamanya Arif (bukan nama samaran, lo juga gag bakalan tahu… :)), dia adalah santri yang kurang memperhatikan saat ustad menerangkan pelajaran. Saat itu, seperti biasa dia datang terlambat saat ustad, Pak Alfan sedang menerangkan pelajaran (di PPMH ustad dan pengurus memang dipanggil ”Bapak”). Bukannya langsung konsen pada pelajaran, dia malah asik bercanda dengan teman di sebelahnya. Singkat cerita Pak Alfan selesai menerangkan, mulailah beliau bertanya pada santrinya untuk sekedar mengetahui apakah pelajarannya berhasil diserap dengan baik. Satu persatu santri diberi pertanyaan oleh beliau dan selalu mendapat balasan ”jayyid” yang artinya “bagus”. Sampailah akhirnya pertanyaan pada Arif,
“Coba, Cak Arif, apa bahasa arabnya ‘saya biasa shalat malam’?” tanya Pak Alfan.
Karena benar-benar tidak siap, Arif pun gerilya tanya kiri-kanan,
“Heh, apa?” tanya Arif pada teman sebelahnya. Berbekal bisikan temannya Arif berani menjawab,
“Ana ata’awwadu ‘ala ……” sampai disini jawabanya terhenti karena tidak mengerti bahasa arabnya shalat malam. Merasa kasihan, Rusdi, seorang temannya membisikkan sebuah kata dan langsung ditirukannya,
“Ana ata’awwadu ‘ala ma’ashi!!” ulang Arif mantap dengan penekanan pada kata terakhir.
Kontan seluruh kelas bergemuruh oleh tawa. Ternyata Rusdi bukannya membantu, tapi justru mengerjai karena ma’ashi artinya maksiyat. Jadi, yang diucapkan Arif berarti, ‘aku biasa melakukan maksiyat’, hehehehehehe……
Makanya Cak, nek ngaji seng temenan!!
Rabu, 25 Februari 2009
Kamis, 19 Februari 2009
Indahnya Kebersamaan Diantara Perbedaan
Hari minggu, tanggal 28 Desember 2008, aku termasuk orang yang beruntung berada di tengah jamaah yang menghadiri pengajian KH. Marzuki Musytamar, seorang ketua PC NU kota Malang. Dalam pengajiannya, Kiai Marzuki bercerita, suatu saat beliau diundang untuk menghadiri pernikahan putra Pak Taufiq, salah seorang ketua Muhammadiyah kota Malang, tapi beliau sengaja tidak hadir pada pernikahan itu.
Karena beda ormas Islam kah?
Bukan. Beliau sengaja tidak hadir pada pernikahan itu karena beliau yakin tidak akan bisa ngobrol sampai puas dengan Pak Taufiq jika hadir pada hari H karena begitu banyaknya undangan yang hadir. Beliau tidak hadir pada hari H tetapi mengganti pada esok harinya saat Pak Taufiq tidak terlalu repot oleh para tamu. Jadilah kedua tokoh ormas Islam yang berbeda ini berdiskusi hingga dua jam lamanya. Keduanya memang akrab. Bahkan Pak Taufiq tidak segan-segan untuk meminta pendapat Kiai Marzuki tentang siapa kader Muhammadiyah yang layak untuk dicalonkan untuk menjadi anggota legislatif kota Malang lewat PAN. Kiai Marzukipun memberikan masukan-kasukan sesuai apa yang diketahuinya.
Subhanallah, betapa sebenarnya perbedaan itu bukanlah suatu musibah, bahkan akan menjadi indah jika kita mengetahui dan menyikapi dengan arif karena semua itu adalah kehendak Allah. Bukan bersikap seperti golongan yang memaksakan keyakinan yang dianggapnya benar terhadap golangan lain, bahkan menganggap kafir golongan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Nabi SAW. pernah bersabda, ”Orang Islam yang menganggap kafir orang Islam yang lain, maka dia sendirilah yang kafir.”
Berkenaan dengan perbedaan ini Allah SWT. Berfirman, ”Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan kalian satu keimanan yang tunggal, tapi yang Dia kehendaki adalah menguji kalian dengan apa yang Dia anugrahkan kepada kalian. Maka, utamakanlah beramal kebaikan, kepada Kamilah kalian akan kembali; dan akan Aku jelaskan kepada kalian perihal apa yang kalian perselisihkan.” (QS. Al-Maidah: 48) ”Tuhanmu yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia pulalah yang lebih tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 117)
Nah, mengapa masih memaksakan diri?
Merasa paling benar….??
Karena beda ormas Islam kah?
Bukan. Beliau sengaja tidak hadir pada pernikahan itu karena beliau yakin tidak akan bisa ngobrol sampai puas dengan Pak Taufiq jika hadir pada hari H karena begitu banyaknya undangan yang hadir. Beliau tidak hadir pada hari H tetapi mengganti pada esok harinya saat Pak Taufiq tidak terlalu repot oleh para tamu. Jadilah kedua tokoh ormas Islam yang berbeda ini berdiskusi hingga dua jam lamanya. Keduanya memang akrab. Bahkan Pak Taufiq tidak segan-segan untuk meminta pendapat Kiai Marzuki tentang siapa kader Muhammadiyah yang layak untuk dicalonkan untuk menjadi anggota legislatif kota Malang lewat PAN. Kiai Marzukipun memberikan masukan-kasukan sesuai apa yang diketahuinya.
Subhanallah, betapa sebenarnya perbedaan itu bukanlah suatu musibah, bahkan akan menjadi indah jika kita mengetahui dan menyikapi dengan arif karena semua itu adalah kehendak Allah. Bukan bersikap seperti golongan yang memaksakan keyakinan yang dianggapnya benar terhadap golangan lain, bahkan menganggap kafir golongan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Nabi SAW. pernah bersabda, ”Orang Islam yang menganggap kafir orang Islam yang lain, maka dia sendirilah yang kafir.”
Berkenaan dengan perbedaan ini Allah SWT. Berfirman, ”Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan kalian satu keimanan yang tunggal, tapi yang Dia kehendaki adalah menguji kalian dengan apa yang Dia anugrahkan kepada kalian. Maka, utamakanlah beramal kebaikan, kepada Kamilah kalian akan kembali; dan akan Aku jelaskan kepada kalian perihal apa yang kalian perselisihkan.” (QS. Al-Maidah: 48) ”Tuhanmu yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia pulalah yang lebih tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 117)
Nah, mengapa masih memaksakan diri?
Merasa paling benar….??
Jumat, 13 Februari 2009
Bidadari Impian
Sebenarnya….Aku tahu siapa yang kucinta
Dia yang bersemayam dalam dada
Dia yang memantik rindu dendam
Dia yang slalu mengintaiku di balik awan
Meski tak pernah kujumpai eloknya
Namun kutahu dia slalu ada disana
Entah sampai kapan rasa ini tersimpan
Atau sebenarnya dia tlah jua tahu
Dan bosan menunggu
Ah tak mungkin, aku tahu dia
Kuyakin…..
Dia kan kumiliki
Karena Allah hanya ciptakannya untukku
Untukmu bidadari surgaku, sabarlah menunggu
Ingatkanku dalam khilafku
Hadirlah kau dalam mimpi-mimpiku
Sejukkan setiap amarahku
Tenangkan riak hatiku
Kupun merindukanmu.
Senin, 02 Februari 2009
Keikhlasan Hati Seorang Suami Karena Cinta Kepada Allah
Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk dan diam seribu bahasa. Setelah sekian lama saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.
”Assalamu’alaiki…. permintaan hafalan Qur’annya mau dibacakan kapan, Dek?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. ”Nanti saja saat qiyamullail,” jawab istriku masih dalam tunduknya.
Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun, ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia pun menyerah. Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu bahwa istriku “tidak menarik”. Sekelebat pikiran itu muncul dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
”Bang, sudah saya katakan sejak ta’aruf (awal perkenalan), bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahanda Imam Malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengatakan pada Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama mereka,”Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengan baik (ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama’ besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah. ”Ya Rabbi aku menikahinya karena-Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milik-Mu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas.
Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhnya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajahnya yang masih menyisakan segumpal ragu. ”Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.
"Tidak Dek, sungguh sejak awal, niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat ini. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh anggota keluarga memboikot untuk tidak datang saat akad tadi pagi,” paparku sambil meggenggam erat jemarinya. Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya malam, bait-bait doa kubentangkan pada-Nya.
”Rabbi, tak kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik, karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Rabbi, saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu pertemukanlah aku dengan-Mu dalam jannah-Mu!” Aku beringsut menuju pembaringan amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shaum sunnah rasul-Nya.
Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah, maka kuatkan aku. Dan aku ini hina, maka muliakanlah aku. Dan aku fakir, maka kayakanlah aku wahai Dzat Yang Maha Pengasih.
Diceritakan kembali dari cerita yang berjudul "Gejolak Jiwa di Malam Pertama" dari Tabloid Media Ummat yang beralamat di JL. Wilis 11 Malang, edisi 59/ tahun ke-2.
Pertama kali membaca cerita ini, hatiku tergetar. Mampukah aku bersikap seperti tokoh suami yang begitu ikhlas menerima istrinya karena cintanya kepada Allah, hanya karena ia tahu bahwa istrinya adalah seorang muslimah sejati??? Aku cuma bisa berusaha....
”Assalamu’alaiki…. permintaan hafalan Qur’annya mau dibacakan kapan, Dek?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. ”Nanti saja saat qiyamullail,” jawab istriku masih dalam tunduknya.
Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun, ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia pun menyerah. Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu bahwa istriku “tidak menarik”. Sekelebat pikiran itu muncul dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
”Bang, sudah saya katakan sejak ta’aruf (awal perkenalan), bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahanda Imam Malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengatakan pada Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama mereka,”Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengan baik (ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama’ besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah. ”Ya Rabbi aku menikahinya karena-Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milik-Mu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas.
Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhnya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajahnya yang masih menyisakan segumpal ragu. ”Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.
"Tidak Dek, sungguh sejak awal, niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat ini. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh anggota keluarga memboikot untuk tidak datang saat akad tadi pagi,” paparku sambil meggenggam erat jemarinya. Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya malam, bait-bait doa kubentangkan pada-Nya.
”Rabbi, tak kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik, karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Rabbi, saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu pertemukanlah aku dengan-Mu dalam jannah-Mu!” Aku beringsut menuju pembaringan amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shaum sunnah rasul-Nya.
Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah, maka kuatkan aku. Dan aku ini hina, maka muliakanlah aku. Dan aku fakir, maka kayakanlah aku wahai Dzat Yang Maha Pengasih.
Diceritakan kembali dari cerita yang berjudul "Gejolak Jiwa di Malam Pertama" dari Tabloid Media Ummat yang beralamat di JL. Wilis 11 Malang, edisi 59/ tahun ke-2.
Pertama kali membaca cerita ini, hatiku tergetar. Mampukah aku bersikap seperti tokoh suami yang begitu ikhlas menerima istrinya karena cintanya kepada Allah, hanya karena ia tahu bahwa istrinya adalah seorang muslimah sejati??? Aku cuma bisa berusaha....
Label:
cinta kepada Allah,
ikhlas,
malam pertama
Rabu, 31 Desember 2008
Manusia Terakhir Masuk Surga
Diceritakan sebuah hadits dr Kitab Tamasya ke Surga oleh Ibnu Qayyim al Jauziyah;
Pada hari akhir nanti setelah manusia mendapatkan ganjarannya; yg beriman dan beramal sholeh telah mendapatkan surga dan manusia yg durhaka kpd Allah telah masuk neraka.
Setelah beribu-ribu tahun berlalu Allah menyuruh kpd malaikat utk mencari seseorang di dalam neraka yg masih memiliki iman meski cuma sebesar atom. Malaikatpun pergi ke neraka mencari-cari orang yg dimaksud, tapi tak ketemu. Malaikat kembali kpd Allah dg tangan hampa. Kembali Allah menyuruhnya untuk mencari. Malaikat mencari kembali dan akhirnya menemukan manusia yg dimaksud, lalu membawanya kpd Allah.
Allah berfirman, "Karena masa hukumanmu telah habis dan kamu telah disucikan dari dosa-dosamu, maka sekarang kamu Kumasukkan ke surga karena selama hidup kamu memiliki iman kepada-Ku meski cuma sebesar atom. Untukmu Kuberikan kekayaan sebesar bumi dan seluruh isinya serta ditambah lagi sepuluh kalinya."
Manusia itupun kaget, dengan iman sebesar atom saja telah mendapatkan kekayaan sebesar sebelas kali bumi beserta isinya, bagaimana dengan kekayaan orang yang masuk surga di awal-awal??
Wallahu a'alam bishshawab.
Cerita ini memang telah dimodifikasi, namun keterangan bahwa golongan manusia terakhir yang masuk surga mendapatkan dunia beserta seluruh isinya kemudian ditambahkan lagi sepuluh kali lipatnya ini berdasarkan hadits shahih dari Imam Bukhari dan Imam Muslim radhiyallahu anhuma.
Pada hari akhir nanti setelah manusia mendapatkan ganjarannya; yg beriman dan beramal sholeh telah mendapatkan surga dan manusia yg durhaka kpd Allah telah masuk neraka.
Setelah beribu-ribu tahun berlalu Allah menyuruh kpd malaikat utk mencari seseorang di dalam neraka yg masih memiliki iman meski cuma sebesar atom. Malaikatpun pergi ke neraka mencari-cari orang yg dimaksud, tapi tak ketemu. Malaikat kembali kpd Allah dg tangan hampa. Kembali Allah menyuruhnya untuk mencari. Malaikat mencari kembali dan akhirnya menemukan manusia yg dimaksud, lalu membawanya kpd Allah.
Allah berfirman, "Karena masa hukumanmu telah habis dan kamu telah disucikan dari dosa-dosamu, maka sekarang kamu Kumasukkan ke surga karena selama hidup kamu memiliki iman kepada-Ku meski cuma sebesar atom. Untukmu Kuberikan kekayaan sebesar bumi dan seluruh isinya serta ditambah lagi sepuluh kalinya."
Manusia itupun kaget, dengan iman sebesar atom saja telah mendapatkan kekayaan sebesar sebelas kali bumi beserta isinya, bagaimana dengan kekayaan orang yang masuk surga di awal-awal??
Wallahu a'alam bishshawab.
Cerita ini memang telah dimodifikasi, namun keterangan bahwa golongan manusia terakhir yang masuk surga mendapatkan dunia beserta seluruh isinya kemudian ditambahkan lagi sepuluh kali lipatnya ini berdasarkan hadits shahih dari Imam Bukhari dan Imam Muslim radhiyallahu anhuma.
Senin, 17 November 2008
Tentang Cinta
Aku mencintaimu bukan karena apa yang ada padamu
Aku mencintaimu karena hatiku yang memilihmu
Aku mencintaimu karena kau layak menerima cintaku
Bersamamu, kuyakin cintaku kan menjadi cinta yang dewasa
Aku mencintaimu dengan cinta yang terus bertambah dari waktu ke waktu
Aku mencintaimu karena hatiku yang memilihmu
Aku mencintaimu karena kau layak menerima cintaku
Bersamamu, kuyakin cintaku kan menjadi cinta yang dewasa
Aku mencintaimu dengan cinta yang terus bertambah dari waktu ke waktu
Hari ini aku mencintaimu lebih dari hari kemarin
Dan kurang dari esok
Aku mencintaimu untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hatimu
Namun, jika ada seseorang yang sanggup mencintaimu lebih dari cintaku padamu, akan kurelakan kau untuknya
Tapi jika cintanya tak lebih dari cintaku padamu, jangan harap dia bisa mendekatimu
Apapun kan kulakukan untuk kebahagiaanmu
Karena kebahagiaanmu adalah kesempurnaan cintaku
Tak kan ada yang lebih membahagiakanmu selain cinta yang tulus
Dan itu kan kau dapatkan dari cintaku.
*) untuk seeorang yang akan menjadi sahabat abadiku, yang ku tak tahu siapa….
Dan kurang dari esok
Aku mencintaimu untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hatimu
Namun, jika ada seseorang yang sanggup mencintaimu lebih dari cintaku padamu, akan kurelakan kau untuknya
Tapi jika cintanya tak lebih dari cintaku padamu, jangan harap dia bisa mendekatimu
Apapun kan kulakukan untuk kebahagiaanmu
Karena kebahagiaanmu adalah kesempurnaan cintaku
Tak kan ada yang lebih membahagiakanmu selain cinta yang tulus
Dan itu kan kau dapatkan dari cintaku.
*) untuk seeorang yang akan menjadi sahabat abadiku, yang ku tak tahu siapa….
Sekilas Hati (Qalbu)
Aku berlindung kepada Allah dari buruknya kebodohanku dan kesalahan niatku. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada cahaya sejati; Muhammad SAW., keluarga, para sahabat, serta pengikut setianya hingga akhir zaman.
”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” (QS; Al-Isra’: 36).
Dalam hidup bermasyarakat, kita mengenal adanya pemimpin dan yang dipimpin. Agar tatanan kehidupan berlangsung sesuai dengan harapan, sang pemimpin haruslah benar-benar bijaksana dalam mengambil kebijakan dan keputusan. Demikian pula dengan tubuh. Jika diibaratkan tubuh adalah sebuah kerajaan, maka raja dari kerajaan tubuh kita adalah hati. Apa yang dikerjakan oleh tubuh, itu adalah perintah dari hati. Dengan demikian, apabila kita ingin setiap tingkah laku kita baik dan indah, maka hati kitapun harus kita jaga agar selalu bersih dan suci, jauh dari segala bentuk penyakit hati. Rasulullah SAW. Bersabda, ”Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging *). Bila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati atau qalbu adalah salah satu unsur gaib dalam diri manusia selain ruh (nyawa) dan nafs (diri). Hati berada di dalam dada, namun jangan sekali-kali membelah dada seseorang hanya untuk mengetahui bentuk dari hatinya karena tidak akan pernah ditemukan sebab hati adalah sesuatu yang gaib. Hati (qalbu) bukanlah hati secara biologi; hati (liver) atau jantung (cor). Allah SWT. Berfirman, ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang berada di dalam dada” (QS; Al-Hajj: 46). Dalam suatu riwayat diceritakan saat Rasulullah SAW. hendak mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal RA. menjadi gubernur Yaman, beliau sempat bertanya kepada Mu’adz tentang pedoman-pedoman apa yang digunakannya untuk memutuskan suatu perkara. Sahabat Mu’adz menjawab secara berurutan dimulai dari Kitab Allah, kemudian Sunnah Rasul, lalu ia akan berijtihad apabila masalah tersebut tidak ada dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Rasulullah SAW. lalu menepuk tepat di dada Mu’adz dan bersabda, ”Segala puji bagi Allah yang telah menolong utusan Rasulullah dalam menemukan sesuatu yang menyenangkan Rasulullah” (HR. Abu Dawud). Hati halus dalam dadalah yang dirujuk Rasul, bukan kepala tempat otak berada.
Maka itulah wahai sahabat, sebagai mahluk yang lemah, sudah sepatutnyalah kita senantiasa menjaga hati. Berhati-hatilah dengan perkara hati, jangan sampai ia sakit. Karena, sungguh! Sakitnya hati berbeda dengan sakitnya tubuh. Orang yang tubuhnya sakit dapat merasakan sendiri kalau ia sedang sakit, sementara orang lain tidak dapat merasakan sakitnya. Sedangkan orang yang hatinya sedang sakit tidak dapat merasakan kalau ia sedang sakit, justru orang lainlah yang dapat mengetahui bahwa hatinya sedang sakit. Dengan demikian, sering-seringlah kita bertanya kepada teman dekat kita tentang diri kita, apakah ada sifat sombong dalam diri kita, apakah kita suka iri, dengki, riya’, berburuk sangka; baik kepada sesama manusia terlebih lagi kepada Allah, suka menggunjing orang, mencela orang, dll., hal-hal semacam ini kadang-kadang tidak kita sadari ternyata ada dalam diri kita, betul tidak? Maka beruntunglah orang yang dapat menyadari bahwa hatinya sedang sakit, kemudian ia bersegera untuk kembali pada hati yang bersih.
Setelah berbicara tentang hati yang sakit sekarang kita belajar tentang hati yang sehat. Ulama’ salaf mengindikasikan orang yang berhati sehat adalah selalu mengingat kepada Siapa pemiliknya; sehingga ia mau kembali ke jalan Allah SWT.; tunduk dan bergantung kepada-Nya seperti bergantungnya seorang yang mencintai terhadap yang dicintainya. Ia selalu berdzikir dan berkhidmat kepada-Nya. Ciri sehatnya hati adalah jika ia tertinggal atau tidak sempat mengingat dan beribadah kepada Allah, ia akan merasa sakit dan tersiksa melebihi orang kaya yang kehilangan harta. Sudahkah kita merasa seperti itu? Orang yang bersih hatinya tercermin dalam sifat-sifat seperti sabar, ikhlas (saat beramal), ridho (setelah beramal), qana’ah (menerima apapun pemberian Allah), zuhud (tidak cinta dunia), bersyukur, dll.Inilah sekelumit tentang hati yang dapat saya sampaikan. Sebuah informasi yang sangat dasar, namun saya harap dapat mengantarkan para sahabat untuk lebih memahami tentang hati; suatu aset yang paling berharga yang kita punya. Jangan pernah melupakannya karena kesibukan kita, kesenangan kita. Jagalah ia, karena ia bisa membawa kabahagiaan pada diri kita sekaligus kesedihan yang tiada tara bila kita mengabaikannya. Banyak penyakit-penyakit sosial yang melanda masyarakat karena mereka lalai pada hati (qalbu). Kenalilah hati dan permasalahannya dengan mencari ilmu tentang hati. Semoga Allah meridhoi usaha kita, amin.
*) kata ’mudlghota’ dapat diartikan’sesuatu’ dalam arti luas, karena dalam kajian selanjutnya ternyata hati (qalb) itu sifatnya gaib atau tidak berwujud walau sejatinya ia ada.
”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” (QS; Al-Isra’: 36).
Dalam hidup bermasyarakat, kita mengenal adanya pemimpin dan yang dipimpin. Agar tatanan kehidupan berlangsung sesuai dengan harapan, sang pemimpin haruslah benar-benar bijaksana dalam mengambil kebijakan dan keputusan. Demikian pula dengan tubuh. Jika diibaratkan tubuh adalah sebuah kerajaan, maka raja dari kerajaan tubuh kita adalah hati. Apa yang dikerjakan oleh tubuh, itu adalah perintah dari hati. Dengan demikian, apabila kita ingin setiap tingkah laku kita baik dan indah, maka hati kitapun harus kita jaga agar selalu bersih dan suci, jauh dari segala bentuk penyakit hati. Rasulullah SAW. Bersabda, ”Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging *). Bila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati atau qalbu adalah salah satu unsur gaib dalam diri manusia selain ruh (nyawa) dan nafs (diri). Hati berada di dalam dada, namun jangan sekali-kali membelah dada seseorang hanya untuk mengetahui bentuk dari hatinya karena tidak akan pernah ditemukan sebab hati adalah sesuatu yang gaib. Hati (qalbu) bukanlah hati secara biologi; hati (liver) atau jantung (cor). Allah SWT. Berfirman, ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang berada di dalam dada” (QS; Al-Hajj: 46). Dalam suatu riwayat diceritakan saat Rasulullah SAW. hendak mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal RA. menjadi gubernur Yaman, beliau sempat bertanya kepada Mu’adz tentang pedoman-pedoman apa yang digunakannya untuk memutuskan suatu perkara. Sahabat Mu’adz menjawab secara berurutan dimulai dari Kitab Allah, kemudian Sunnah Rasul, lalu ia akan berijtihad apabila masalah tersebut tidak ada dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Rasulullah SAW. lalu menepuk tepat di dada Mu’adz dan bersabda, ”Segala puji bagi Allah yang telah menolong utusan Rasulullah dalam menemukan sesuatu yang menyenangkan Rasulullah” (HR. Abu Dawud). Hati halus dalam dadalah yang dirujuk Rasul, bukan kepala tempat otak berada.
Maka itulah wahai sahabat, sebagai mahluk yang lemah, sudah sepatutnyalah kita senantiasa menjaga hati. Berhati-hatilah dengan perkara hati, jangan sampai ia sakit. Karena, sungguh! Sakitnya hati berbeda dengan sakitnya tubuh. Orang yang tubuhnya sakit dapat merasakan sendiri kalau ia sedang sakit, sementara orang lain tidak dapat merasakan sakitnya. Sedangkan orang yang hatinya sedang sakit tidak dapat merasakan kalau ia sedang sakit, justru orang lainlah yang dapat mengetahui bahwa hatinya sedang sakit. Dengan demikian, sering-seringlah kita bertanya kepada teman dekat kita tentang diri kita, apakah ada sifat sombong dalam diri kita, apakah kita suka iri, dengki, riya’, berburuk sangka; baik kepada sesama manusia terlebih lagi kepada Allah, suka menggunjing orang, mencela orang, dll., hal-hal semacam ini kadang-kadang tidak kita sadari ternyata ada dalam diri kita, betul tidak? Maka beruntunglah orang yang dapat menyadari bahwa hatinya sedang sakit, kemudian ia bersegera untuk kembali pada hati yang bersih.
Setelah berbicara tentang hati yang sakit sekarang kita belajar tentang hati yang sehat. Ulama’ salaf mengindikasikan orang yang berhati sehat adalah selalu mengingat kepada Siapa pemiliknya; sehingga ia mau kembali ke jalan Allah SWT.; tunduk dan bergantung kepada-Nya seperti bergantungnya seorang yang mencintai terhadap yang dicintainya. Ia selalu berdzikir dan berkhidmat kepada-Nya. Ciri sehatnya hati adalah jika ia tertinggal atau tidak sempat mengingat dan beribadah kepada Allah, ia akan merasa sakit dan tersiksa melebihi orang kaya yang kehilangan harta. Sudahkah kita merasa seperti itu? Orang yang bersih hatinya tercermin dalam sifat-sifat seperti sabar, ikhlas (saat beramal), ridho (setelah beramal), qana’ah (menerima apapun pemberian Allah), zuhud (tidak cinta dunia), bersyukur, dll.Inilah sekelumit tentang hati yang dapat saya sampaikan. Sebuah informasi yang sangat dasar, namun saya harap dapat mengantarkan para sahabat untuk lebih memahami tentang hati; suatu aset yang paling berharga yang kita punya. Jangan pernah melupakannya karena kesibukan kita, kesenangan kita. Jagalah ia, karena ia bisa membawa kabahagiaan pada diri kita sekaligus kesedihan yang tiada tara bila kita mengabaikannya. Banyak penyakit-penyakit sosial yang melanda masyarakat karena mereka lalai pada hati (qalbu). Kenalilah hati dan permasalahannya dengan mencari ilmu tentang hati. Semoga Allah meridhoi usaha kita, amin.
*) kata ’mudlghota’ dapat diartikan’sesuatu’ dalam arti luas, karena dalam kajian selanjutnya ternyata hati (qalb) itu sifatnya gaib atau tidak berwujud walau sejatinya ia ada.
Senin, 06 Oktober 2008
Mahalnya Sebuah Maaf
HARI itu, saat mengantri proses legalisir KTP di Kantor Catatan Sipil Kabupaten Malang di Kepanjen selesai, aku melihat dari belakang seorang gadis berperawakan tinggi memakai sweeter warna orange. Keadaan ini langsung mengingatkanku pada seseorang yang juga suka memakai sweeter orange dan semua yang berbau orange (ups, maksudnya berwarna orange). Seorang yang pernah kusayangi dengan sayang yang sangat, namun juga pernah kusakiti, yang membuatnya begitu sulit untuk memaafkanku. Waktu melakukan kesalahan itu, tak sedikitpun terbersit keinginan untuk menyakitinya. Namun semua itu telah terjadi. Dia telah memutuskan komunikasi denganku. Apapun alasanku tidak mampu membuatnya bergeming dan mau mengulang semua yang pernah terjadi dari awal.
MENYESAL. Yah, itulah kiranya yang kurasakan saat begitu sulitnya mendapat maaf dari dia. Dan seperti biasa, penyesalan itu hadir setelah kesalahan terjadi. Setelah kata maaf begitu berat dilepaskan. Meskipun Nabi pernah bersabda, "Manusia itu tempatnya salah dan lupa", namun tidak otomatis bisa menjadi alasan yang bisa diterima untuk berbuat salah, karena dia; termasuk juga kita, adalah manusia, bukan Allah yang Maha Pengampun, yang mempunyai keterbatasan pada kelapangan dadanya. Tidak semua orang berlapang dada yang dengan begitu ikhlas memberikan maaf untuk setiap pemintanya. Manusia kadang-kadang terlalu sulit untuk menghapus kenangan buruk yang pernah dialami; termasuk ketika ia disakiti, terlebih lagi seorang wanita. Hal inilah yang membuat sebuah maaf begitu sulit dilepaskan atau kata maaf mungkin terucap, tapi apakah benar-benar dari dalam hatinya?
PELAJARAN yang dapat diambil adalah; jangan pernah berfikir untuk melakukan kesalahan pada orang lain, siapapun dia. Berfikirlah sebelum bertindak. Jangan sampai perbuatan kita menyakiti orang lain, terlebih lagi kesalahan itu membuatnya begitu sulit untuk memaafkan kita. Apa yang menurut kita biasa, mungkin cuma bermaksud bercanda, bisa saja membuat lawan bicara kita tersinggung dan sakit hati. Pahamilah kondisi psikis lawan bicara saat ingin bercanda atau memberi saran, dll. Mungkin niat kita baik, mungkin apa yang kita ucapkan benar, tapi bisa jadi sangat salah apabila kita membicarakannya pada saat yang tidak tepat. Kalau sudah begini....... jangan sampai menyesal lagi, seperti saya. Hiks....hiks.....
MENYESAL. Yah, itulah kiranya yang kurasakan saat begitu sulitnya mendapat maaf dari dia. Dan seperti biasa, penyesalan itu hadir setelah kesalahan terjadi. Setelah kata maaf begitu berat dilepaskan. Meskipun Nabi pernah bersabda, "Manusia itu tempatnya salah dan lupa", namun tidak otomatis bisa menjadi alasan yang bisa diterima untuk berbuat salah, karena dia; termasuk juga kita, adalah manusia, bukan Allah yang Maha Pengampun, yang mempunyai keterbatasan pada kelapangan dadanya. Tidak semua orang berlapang dada yang dengan begitu ikhlas memberikan maaf untuk setiap pemintanya. Manusia kadang-kadang terlalu sulit untuk menghapus kenangan buruk yang pernah dialami; termasuk ketika ia disakiti, terlebih lagi seorang wanita. Hal inilah yang membuat sebuah maaf begitu sulit dilepaskan atau kata maaf mungkin terucap, tapi apakah benar-benar dari dalam hatinya?
PELAJARAN yang dapat diambil adalah; jangan pernah berfikir untuk melakukan kesalahan pada orang lain, siapapun dia. Berfikirlah sebelum bertindak. Jangan sampai perbuatan kita menyakiti orang lain, terlebih lagi kesalahan itu membuatnya begitu sulit untuk memaafkan kita. Apa yang menurut kita biasa, mungkin cuma bermaksud bercanda, bisa saja membuat lawan bicara kita tersinggung dan sakit hati. Pahamilah kondisi psikis lawan bicara saat ingin bercanda atau memberi saran, dll. Mungkin niat kita baik, mungkin apa yang kita ucapkan benar, tapi bisa jadi sangat salah apabila kita membicarakannya pada saat yang tidak tepat. Kalau sudah begini....... jangan sampai menyesal lagi, seperti saya. Hiks....hiks.....
Minggu, 27 Juli 2008
Kutitipkan Cintaku Pada-Mu
Dalam setiap tarikan nafasku kuharapkan rahmat-Mu
Sekuat tenaga kutuju ridho-Mu
Meski maksiat setia iringi langkahku
Tapi aku hamba-Mu, ya Allah!
Aku bisa manghindar, pun kerap tenggelam
Ampuni aku, ya Rabb!
Kau sisipkan padaku mata tuk menikmati eloknya karya-Mu
Kau selipkan hati disela ragaku
Hingga aku terhanyut dalam cinta
Bualan hamba-hamba-Mu tentang puncak keindahan
Hambapun tiada mengingkarinya
Rabb!
Wanita itu telah mencuri hatiku
Membuatku ingin menjeratnya
Tuk selalu menjadi milikku
Membuatnya hiasan terindah
Yang setia menyejukkan hariku
Namun hamba tiada berdaya mengikatnya dengan syari’at
Hamba kekurangan,
Hamba lemah!
Takkan pernah hamba milikinya tanpa syari’at, haram!
Meski kutahu indahnya memikat yang lain
Ya Allah, kutitipkan cintaku pada-Mu
Hingga saat Kau izinkan hamba mengikatnya
Atau Kau berkehendak lain
Aku ridho pada-Mu, ya Rabb.
Sekuat tenaga kutuju ridho-Mu
Meski maksiat setia iringi langkahku
Tapi aku hamba-Mu, ya Allah!
Aku bisa manghindar, pun kerap tenggelam
Ampuni aku, ya Rabb!
Kau sisipkan padaku mata tuk menikmati eloknya karya-Mu
Kau selipkan hati disela ragaku
Hingga aku terhanyut dalam cinta
Bualan hamba-hamba-Mu tentang puncak keindahan
Hambapun tiada mengingkarinya
Rabb!
Wanita itu telah mencuri hatiku
Membuatku ingin menjeratnya
Tuk selalu menjadi milikku
Membuatnya hiasan terindah
Yang setia menyejukkan hariku
Namun hamba tiada berdaya mengikatnya dengan syari’at
Hamba kekurangan,
Hamba lemah!
Takkan pernah hamba milikinya tanpa syari’at, haram!
Meski kutahu indahnya memikat yang lain
Ya Allah, kutitipkan cintaku pada-Mu
Hingga saat Kau izinkan hamba mengikatnya
Atau Kau berkehendak lain
Aku ridho pada-Mu, ya Rabb.
Cinta Untuk Siapa?
Setiap manusia pasti berharap akan cinta
Mencintai dan dicintai
Karena hanya cinta yang mampu menghadirkan keindahan, kedamaian, kebahagiaan, .......
Apapun jalan untuk meraih kebahagiaan, ia pasti berdasar atas cinta
Namun, untuk siapakah cinta itu?
Mencintai dan dicintai
Karena hanya cinta yang mampu menghadirkan keindahan, kedamaian, kebahagiaan, .......
Apapun jalan untuk meraih kebahagiaan, ia pasti berdasar atas cinta
Namun, untuk siapakah cinta itu?
Cinta yang sebenarnya hanya berhak dimiliki oleh orang yang mengerti cinta
Orang yang menghargai cinta, bukan orang yang menginjak-injak cinta
Orang yang menjaga kesucian cinta, bukan yang menodai cinta
Cinta bukanlah milik orang yang sekedar meraih kenikmatan atas nama cinta
Cinta itu bukanlah sekedar kenikmatan jasmaniah.
Terlalu picik pikiran kita jika menganggap cinta itu adalah kenikmatan jasmaniah
Karena jika kenikmatan itu telah hilang, maka cinta juga akan hilang
Itu bukan cinta, sobat!
Itu nafsu.
Cinta adalah milik orang yang mengerti cinta
Yang mencintai dengan ketulusan
Yang mencintai bukan karena alasan materialisme
Keindahan, kekayaan, kehormatan, popularisme, ...........
Demi Allah, semua itu tidaklah abadi
Bukankah kita ingin cinta yang abadi?
Abadikan cintamu dengan ketulusan, sobat!
Cintailah ia karena kau ingin membahagiakannya
Niscaya kaupun akan merasa bahagia
Cintailah ia apa adanya
Hormatilah kekurangannya, terimalah kelebihannya
Dan kau akan merasakan keindahan cinta yang sebenarnya
Jika kau mencintainya, jagalah ia
Bukan menodainya.
Langganan:
Postingan (Atom)
