Rabu, 25 Februari 2009

Sebuah Kelucuan di PPMH

Ini adalah peristiwa yang menimpa teman sekelasku di Madrasah Diniyah Matholi’ul Huda (MMH) Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) kota Malang. Gag fatal sih, cuma bikin malu. Kejadiannya saat ngaji diniyah pelajaran Bahasa Arab, temanku ini mamanya Arif (bukan nama samaran, lo juga gag bakalan tahu… :)), dia adalah santri yang kurang memperhatikan saat ustad menerangkan pelajaran. Saat itu, seperti biasa dia datang terlambat saat ustad, Pak Alfan sedang menerangkan pelajaran (di PPMH ustad dan pengurus memang dipanggil ”Bapak”). Bukannya langsung konsen pada pelajaran, dia malah asik bercanda dengan teman di sebelahnya. Singkat cerita Pak Alfan selesai menerangkan, mulailah beliau bertanya pada santrinya untuk sekedar mengetahui apakah pelajarannya berhasil diserap dengan baik. Satu persatu santri diberi pertanyaan oleh beliau dan selalu mendapat balasan ”jayyid” yang artinya “bagus”. Sampailah akhirnya pertanyaan pada Arif,

“Coba, Cak Arif, apa bahasa arabnya ‘saya biasa shalat malam’?” tanya Pak Alfan.
Karena benar-benar tidak siap, Arif pun gerilya tanya kiri-kanan,

“Heh, apa?” tanya Arif pada teman sebelahnya. Berbekal bisikan temannya Arif berani menjawab,

Ana ata’awwadu ‘ala ……” sampai disini jawabanya terhenti karena tidak mengerti bahasa arabnya shalat malam. Merasa kasihan, Rusdi, seorang temannya membisikkan sebuah kata dan langsung ditirukannya,

Ana ata’awwadu ‘ala ma’ashi!!” ulang Arif mantap dengan penekanan pada kata terakhir.
Kontan seluruh kelas bergemuruh oleh tawa. Ternyata Rusdi bukannya membantu, tapi justru mengerjai karena ma’ashi artinya maksiyat. Jadi, yang diucapkan Arif berarti, ‘aku biasa melakukan maksiyat’, hehehehehehe……

Makanya Cak, nek ngaji seng temenan!!

Kamis, 19 Februari 2009

Indahnya Kebersamaan Diantara Perbedaan

Hari minggu, tanggal 28 Desember 2008, aku termasuk orang yang beruntung berada di tengah jamaah yang menghadiri pengajian KH. Marzuki Musytamar, seorang ketua PC NU kota Malang. Dalam pengajiannya, Kiai Marzuki bercerita, suatu saat beliau diundang untuk menghadiri pernikahan putra Pak Taufiq, salah seorang ketua Muhammadiyah kota Malang, tapi beliau sengaja tidak hadir pada pernikahan itu.

Karena beda ormas Islam kah?

Bukan. Beliau sengaja tidak hadir pada pernikahan itu karena beliau yakin tidak akan bisa ngobrol sampai puas dengan Pak Taufiq jika hadir pada hari H karena begitu banyaknya undangan yang hadir. Beliau tidak hadir pada hari H tetapi mengganti pada esok harinya saat Pak Taufiq tidak terlalu repot oleh para tamu. Jadilah kedua tokoh ormas Islam yang berbeda ini berdiskusi hingga dua jam lamanya. Keduanya memang akrab. Bahkan Pak Taufiq tidak segan-segan untuk meminta pendapat Kiai Marzuki tentang siapa kader Muhammadiyah yang layak untuk dicalonkan untuk menjadi anggota legislatif kota Malang lewat PAN. Kiai Marzukipun memberikan masukan-kasukan sesuai apa yang diketahuinya.

Subhanallah, betapa sebenarnya perbedaan itu bukanlah suatu musibah, bahkan akan menjadi indah jika kita mengetahui dan menyikapi dengan arif karena semua itu adalah kehendak Allah. Bukan bersikap seperti golongan yang memaksakan keyakinan yang dianggapnya benar terhadap golangan lain, bahkan menganggap kafir golongan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Nabi SAW. pernah bersabda, ”Orang Islam yang menganggap kafir orang Islam yang lain, maka dia sendirilah yang kafir.”

Berkenaan dengan perbedaan ini Allah SWT. Berfirman, ”Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan kalian satu keimanan yang tunggal, tapi yang Dia kehendaki adalah menguji kalian dengan apa yang Dia anugrahkan kepada kalian. Maka, utamakanlah beramal kebaikan, kepada Kamilah kalian akan kembali; dan akan Aku jelaskan kepada kalian perihal apa yang kalian perselisihkan.” (QS. Al-Maidah: 48) ”Tuhanmu yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia pulalah yang lebih tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 117)


Nah, mengapa masih memaksakan diri?

Merasa paling benar….??

Jumat, 13 Februari 2009

Bidadari Impian

Sebenarnya….
Aku tahu siapa yang kucinta
Dia yang bersemayam dalam dada
Dia yang memantik rindu dendam
Dia yang slalu mengintaiku di balik awan
Meski tak pernah kujumpai eloknya
Namun kutahu dia slalu ada disana

Entah sampai kapan rasa ini tersimpan
Atau sebenarnya dia tlah jua tahu
Dan bosan menunggu
Ah tak mungkin, aku tahu dia

Kuyakin…..
Dia kan kumiliki
Karena Allah hanya ciptakannya untukku

Untukmu bidadari surgaku, sabarlah menunggu
Ingatkanku dalam khilafku
Hadirlah kau dalam mimpi-mimpiku
Sejukkan setiap amarahku
Tenangkan riak hatiku
Kupun merindukanmu.

Senin, 02 Februari 2009

Keikhlasan Hati Seorang Suami Karena Cinta Kepada Allah

Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk dan diam seribu bahasa. Setelah sekian lama saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

Assalamu’alaiki…. permintaan hafalan Qur’annya mau dibacakan kapan, Dek?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. ”Nanti saja saat qiyamullail,” jawab istriku masih dalam tunduknya.

Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun, ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia pun menyerah. Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu bahwa istriku “tidak menarik”. Sekelebat pikiran itu muncul dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

”Bang, sudah saya katakan sejak ta’aruf (awal perkenalan), bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahanda Imam Malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengatakan pada Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama mereka,”Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengan baik (ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama’ besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah. ”Ya Rabbi aku menikahinya karena-Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milik-Mu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas.

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhnya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajahnya yang masih menyisakan segumpal ragu. ”Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.

"Tidak Dek, sungguh sejak awal, niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat ini. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh anggota keluarga memboikot untuk tidak datang saat akad tadi pagi,” paparku sambil meggenggam erat jemarinya. Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya malam, bait-bait doa kubentangkan pada-Nya.
Rabbi, tak kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik, karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Rabbi, saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu pertemukanlah aku dengan-Mu dalam jannah-Mu!” Aku beringsut menuju pembaringan amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shaum sunnah rasul-Nya.

Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah, maka kuatkan aku. Dan aku ini hina, maka muliakanlah aku. Dan aku fakir, maka kayakanlah aku wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

Diceritakan kembali dari cerita yang berjudul "Gejolak Jiwa di Malam Pertama" dari Tabloid Media Ummat yang beralamat di JL. Wilis 11 Malang, edisi 59/ tahun ke-2.


Pertama kali membaca cerita ini, hatiku tergetar. Mampukah aku bersikap seperti tokoh suami yang begitu ikhlas menerima istrinya karena cintanya kepada Allah, hanya karena ia tahu bahwa istrinya adalah seorang muslimah sejati??? Aku cuma bisa berusaha....