Kamis, 19 Februari 2009

Indahnya Kebersamaan Diantara Perbedaan

Hari minggu, tanggal 28 Desember 2008, aku termasuk orang yang beruntung berada di tengah jamaah yang menghadiri pengajian KH. Marzuki Musytamar, seorang ketua PC NU kota Malang. Dalam pengajiannya, Kiai Marzuki bercerita, suatu saat beliau diundang untuk menghadiri pernikahan putra Pak Taufiq, salah seorang ketua Muhammadiyah kota Malang, tapi beliau sengaja tidak hadir pada pernikahan itu.

Karena beda ormas Islam kah?

Bukan. Beliau sengaja tidak hadir pada pernikahan itu karena beliau yakin tidak akan bisa ngobrol sampai puas dengan Pak Taufiq jika hadir pada hari H karena begitu banyaknya undangan yang hadir. Beliau tidak hadir pada hari H tetapi mengganti pada esok harinya saat Pak Taufiq tidak terlalu repot oleh para tamu. Jadilah kedua tokoh ormas Islam yang berbeda ini berdiskusi hingga dua jam lamanya. Keduanya memang akrab. Bahkan Pak Taufiq tidak segan-segan untuk meminta pendapat Kiai Marzuki tentang siapa kader Muhammadiyah yang layak untuk dicalonkan untuk menjadi anggota legislatif kota Malang lewat PAN. Kiai Marzukipun memberikan masukan-kasukan sesuai apa yang diketahuinya.

Subhanallah, betapa sebenarnya perbedaan itu bukanlah suatu musibah, bahkan akan menjadi indah jika kita mengetahui dan menyikapi dengan arif karena semua itu adalah kehendak Allah. Bukan bersikap seperti golongan yang memaksakan keyakinan yang dianggapnya benar terhadap golangan lain, bahkan menganggap kafir golongan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Nabi SAW. pernah bersabda, ”Orang Islam yang menganggap kafir orang Islam yang lain, maka dia sendirilah yang kafir.”

Berkenaan dengan perbedaan ini Allah SWT. Berfirman, ”Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan kalian satu keimanan yang tunggal, tapi yang Dia kehendaki adalah menguji kalian dengan apa yang Dia anugrahkan kepada kalian. Maka, utamakanlah beramal kebaikan, kepada Kamilah kalian akan kembali; dan akan Aku jelaskan kepada kalian perihal apa yang kalian perselisihkan.” (QS. Al-Maidah: 48) ”Tuhanmu yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia pulalah yang lebih tahu siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 117)


Nah, mengapa masih memaksakan diri?

Merasa paling benar….??

1 komentar:

Anonim mengatakan...

oh, ini to,,
memangnya kita beda ya, kok diminta baca? :-)